Merantau ke Kota #1


Pada tahun 2022 aku merantau ke sebuah kota. Anak yang dikenal tak kan bisa jauh dari orang tuanya ini kini harus jauh demi sebuah cita-cita yang harus diwujudkan. Takdir mengantarkan ku ke sebuah kota yang sangat indah, namun sedikit menyeramkan dengan berbagai watak penghuni kota itu, katanya kota ini dihuni oleh penduduk yang saat bertutur kata tidak lagi lembut, namun sungguh keras, ya ini adalah kota Medan.

Beberapa bulan di Medan dan benar saja aku merasakan jauh perbedaannya dari cara bertutur kata. Kehidupan ku yang di kelilingi oleh orang orang yang bertutur kata lemah lembut, kini aku harus mendengarkan sebuah makian. Anehnya, makian itu bukan tertuju pada ku, namun sering kali aku mendengarkan sebuah kata yang tak pantas diucapkan. Deg hatiku mendengarnya.

“Wah benar saja ternyata di kota ini harus kuat mental” batinku. Bagaimana tidak, pasalnya jangan kan memaki mendengar suara keras saja sudah sedikit mampu membuat ku berlinang.

Beberapa bulan kemudian, aku bawa motor untuk pergi bimbel ke suatu tempat. Kira-kira dari kost ku ke tempat itu berkisar 20 menit. Namun ketika di perjalanan, aku tidak tahu itu salah ku atau pengendara lain, tiba-tiba dia memaki ku. Betapa kesalnya aku orang itu yang bawa motornya sangat ngebut tapi dia memaki ku. Apakah aku menangis? tentu saja. Padahal aku tak mengenal si pengendara motor itu siapa, tapi ucapannya membuat ku sakit.

Kala itu aku menepi di pinggir jalan sambil terisak, namun ada seorang perempuan yang menghampiriku, umurnya di atas ku. Setelah kita bercerita, dia berpesan “Hidup di kota orang tidak seindah hidup di kampung halaman kita. Kita tidak bisa menyamakan antara kehidupan kita di kota dengan kehidupan kita di kampung kita sendiri. Hidup di kota terkenal ‘keras’, kita cuma butuh waktu untuk membiasakan keadaan di kota ini, bukan untuk menyerah dan kembali ke kampung halaman”. Ntah lah, aku langsung memikirkan betapa baiknya Tuhan kepadaku, sebab telah mengirimkan perempuan dewasa ini kepadaku, padahal jauh sebelumnya tidak mengenal sama sekali, dan hingga detik ini pun kami tak pernah bertutur kata lagi.

Setelah pertemuan itu selesai, aku pamit izin untuk melanjutkan perjalanan ku, dan sebut saja “kakak baik” itu juga pamit, karena ojol sudah menjemputnya. Satu yang aku ingat dia saat ini bekerja di salah satu kantor dekat aku berhenti di pinggir jalan itu.

Sesampainya di tempat belajar itu, benar saja pelajaran telah dimulai, aku telat. Namun tidak menjadi masalah bagi ustadz. Sekitar 20 menit aku mengikuti pelajaran sebelum ustadz menutup pelajaran, ustadz memberikan sebuah wejangan pasalnya ustadz tahu bahwa semua anak muridnya adalah anak rantauan, ustadz bilang “ menjadi anak rantauan itu bagi ustadz tidak mudah, saya juga pernah berada di posisi kalian, ada rindu ke orang tua yang harus ditahan, ada uang yang dipikirkan, dan yang lainnya. Tujuan kalian merantau kesini saya yakin untuk belajar, belajar yang kalian lakukan itu kewajiban, dan ada sebuah amanah yaitu amanah orang tua. Orang tua mempercayakan ke kalian dalam memantau ini untuk mencari ilmu, jadi sesakit sakitnya di perantuan dalam mencari ilmu jangan sampai menyerah dan kembali ke kampung halaman. Ingat sebuah ucapan yang disampaikan oleh Imam Syafi’i “Merantaulah dan engkau akan mendapatkan pengganti dari orang orang yang engkau tinggalkan. Berlelah lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang” ucapan dari Imam Syafi’i banyak terbukti oleh orang orang hebat, orang hebat yang kalian lihat itu bukan hebat begitu saja, namun ada banyak sekali batuan yang harus dia singkirkan dan harus bisa dia lewati”. Mendengar ucapan ustadz seperti itu rasanya nikmat mana lagi yang didustakan, sungguh baik sekali Allah kepada manusia satu ini. Ada dua orang hebat yang memberikan wejangan dalam satu waktu.

Rasanya tak ada kata menyerah untuk diri ini. Begitu baiknya Allah menitipkan orang orang untuk menyemangati hidup. Dari sini lah hidup ku mulai dibentuk untuk tidak terlalu lemah dalam menghadapi arus yang sungguh deras.

BERSAMBUNG...


Komentar

Postingan Populer